LEXICAL ARCHEOLOGY — INVESTIGATION 07 PART II DARI SABANG SAMPAI MERAUKE — WE ARE INDONESIA PAPUA ADALAH BUKTINYA. INDONESIA ADALAH INVESTIGASINYA. Oleh Jason Hutagalung
AUTHORSHIP NOTICE: Original investigation and writing by Jason Hutagalung. AI was used only to create the accompanying visual artwork
LEXICAL ARCHEOLOGY — INVESTIGATION 07
PART II
DARI SABANG SAMPAI MERAUKE — WE ARE INDONESIAPAPUA ADALAH BUKTINYA. INDONESIA ADALAH INVESTIGASINYA.
Oleh Jason Hutagalung
Untuk Tanah Airku, Indonesia
Pada Part I kita berhenti pada satu pertanyaan:
Siapa yang memiliki ekonomi yang membuat excavator itu bergerak?
Sekarang kita mengikuti uangnya.
Karena Papua bukan akhir dari Investigation 07.
PAPUA ADALAH EXHIBIT A.
Apa yang terlihat begitu jelas di Papua harus membuat kita melihat kembali seluruh Indonesia.
Sawit Sumatra.
Batubara Kalimantan.
Nikel Sulawesi.
Mineral Maluku.
Gula dan bioetanol Papua.
Komoditasnya berbeda.
Perusahaannya berbeda.
Provinsinya berbeda.
Tetapi mesin ekonominya dapat mengikuti pola yang sama:
TANAH → IZIN → KONSESI → PERUSAHAAN → PRODUKSI → PROFIT → PEMEGANG SAHAM → KEKAYAAN.
Dan sekarang dunia sedang memasuki keadaan yang membuat pertanyaan itu semakin penting.
Gangguan energi global dan ketidakstabilan Timur Tengah kembali memperlihatkan betapa berbahayanya ketergantungan sebuah negara terhadap minyak impor dan jalur perdagangan energi internasional.
Indonesia sudah memahami masalah itu.
Itulah mengapa pemerintah mendorong biodiesel berbasis minyak sawit dan bioetanol sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
Dan tiba-tiba apa yang berada di tanah Indonesia menjadi semakin strategis.
SAWIT BUKAN HANYA MINYAK GORENG.
Sawit adalah bahan baku energi.
TEBU BUKAN HANYA GULA.
Tebu dapat menjadi ethanol.
Papua Selatan bukan hanya tanah pertanian.
Ia berpotensi menjadi bagian dari infrastruktur energi Indonesia.
Dan kalau dunia mengalami krisis energi, seharusnya Indonesia berada dalam posisi luar biasa.
Kita mempunyai tanah.
Kita mempunyai sumber daya.
Kita mempunyai tenaga manusia.
Kita mempunyai sawit.
Kita mempunyai kemampuan menghasilkan biofuel.
Kita mempunyai pasar domestik ratusan juta manusia.
Dan pemerintah mempunyai kekuasaan untuk menciptakan pasar melalui kebijakan pencampuran bahan bakar.
THIS SHOULD BE INDONESIA’S MOMENT.
Tetapi siapa yang akan menikmati moment itu?
Di sinilah kita kembali kepada WHO’S WHO IN THE ZOO.
Tanah dapat menjadi konsesi.
Konsesi menjadi aset perusahaan.
Aset menghasilkan komoditas.
Komoditas menghasilkan revenue.
Revenue menghasilkan profit.
Profit meningkatkan nilai perusahaan.
Dan nilai perusahaan dimiliki oleh pemegang saham.
OWNERSHIP IS WHERE THE MONEY CHANGES MEANING.
Seorang pekerja mendapatkan upah.
Seorang pemilik mendapatkan keuntungan.
Seorang pekerja berhenti mendapatkan upah ketika pekerjaannya berhenti.
Pemegang saham dapat terus menerima dividend dan menikmati kenaikan nilai modal selama aset tersebut terus menghasilkan keuntungan.
Itulah mengapa kita tidak boleh berhenti pada nama perusahaan yang tertulis di sebuah kendaraan atau papan proyek.
Kita harus mengetahui siapa pemiliknya.
Holding company-nya.
Pemegang sahamnya.
Beneficial owner-nya.
Di mana perusahaan induknya berada.
Di bursa mana nilainya diperdagangkan.
Dan ke mana keuntungan akhirnya mengalir.
Kita sudah menemukan dalam investigasi sebelumnya bagaimana perusahaan dengan operasi sangat besar di Indonesia dapat mempunyai struktur korporasi yang berjalan melampaui perbatasan Indonesia, termasuk melalui Singapura.
Itu sendiri bukan kejahatan.
Tetapi ketika tanah dan kapasitas negara digunakan atas nama kepentingan nasional, lokasi akhir dari manfaat ekonominya menjadi persoalan kepentingan publik.
Karena negara dapat menasionalisasikan nama sebuah proyek tanpa menasionalisasikan keuntungan proyek tersebut.
NEGARA BISA MENASIONALISASIKAN NAMA PROYEK TANPA MENASIONALISASIKAN MANFAAT EKONOMINYA.
Dan sekarang masalah korupsi Indonesia mulai terlihat berbeda.
Kita sering berbicara tentang korupsi seolah-olah seluruh persoalannya adalah seorang pejabat menerima amplop.
Kemudian muncul kemarahan:
HUKUM MATI KORUPTOR.
GANTUNG KORUPTOR.
Tetapi bagaimana kalau kita terlalu sibuk melihat amplop sehingga tidak melihat mesin yang membuat amplop itu begitu berharga?
Sebelum uang suap berpindah tangan, ada sesuatu yang jauh lebih bernilai:
tanah.
izin.
konsesi.
kontrak.
akses.
monopoli.
kebijakan.
proyek pemerintah.
dan keputusan tentang siapa yang mendapatkan semuanya.
KORUPSI DAPAT MENJADI BAGIAN DARI MESIN. BUKAN SELURUH MESIN.
Kolusi.
Konflik kepentingan.
Patronase.
Akses politik.
Konsentrasi kepemilikan.
Hubungan antara pemerintah dan pemilik modal.
Semua itu harus diperiksa sebelum kita memahami mengapa kekayaan sebuah negara dapat meningkat sementara sebagian besar rakyatnya tidak pernah memiliki bagian berarti dari aset yang menciptakan kekayaan tersebut.
Dan sekarang kembali ke Papua.
Papua mempunyai tanahnya.
Negara membawa proyeknya.
Perusahaan membawa modalnya.
TNI membawa kapasitas negara.
Masyarakat Papua hidup di tengah semuanya.
Tetapi kepemilikan menentukan siapa yang menguasai nilai akhirnya.
Itulah sebabnya Pesta Babi penting.
Bukan karena Papua adalah satu-satunya korban dari struktur seperti ini.
Tetapi karena Papua membuat struktur tersebut terlihat.
Kameranya memperlihatkan tanah.
Kameranya memperlihatkan alat berat.
Kameranya memperlihatkan masyarakat.
Kameranya memperlihatkan kehadiran negara.
Dokumen perusahaan kemudian memperlihatkan bagian yang tidak dapat direkam kamera:
OWNERSHIP.
Dan setelah kita melihat Papua, kita harus melihat Indonesia.
Kalau pola yang sama ditemukan pada sawit Sumatra, batubara Kalimantan, nikel Sulawesi, mineral Maluku dan komoditas Papua, maka kita tidak lagi mempunyai persoalan Papua.
KITA MEMPUNYAI PERSOALAN INDONESIA.
Inilah ironi terbesar.
Indonesia mungkin sedang memasuki periode ketika sumber daya yang kita miliki menjadi semakin penting bagi dunia.
Energi.
Biofuel.
Mineral.
Pangan.
Nikel.
Sawit.
Bioetanol.
Seharusnya ini menjadi kesempatan sejarah bagi rakyat Indonesia untuk menjadi lebih kaya dari kekayaan negaranya sendiri.
Bukan hanya bekerja untuk orang yang memilikinya.
Bukan hanya menjadi buruh di perkebunan.
Bukan hanya menjadi operator di tambang.
Bukan hanya menerima kompensasi ketika tanah berubah fungsi.
KITA HARUS MEMILIKI BAGIAN DARI NILAINYA.
Karena sebuah bangsa dapat mempunyai tanah yang sangat kaya dan tetap miskin apabila kepemilikan kekayaan tersebut terkonsentrasi.
Sebuah negara dapat meningkatkan GDP sementara rakyatnya tetap tidak memiliki aset.
Sebuah daerah dapat menghasilkan miliaran dolar sementara penduduk lokal tetap bergantung kepada upah.
Dan sebuah proyek dapat disebut PEMBANGUNAN NASIONAL sementara manfaat ekonominya mengalir jauh lebih sempit daripada bangsa yang namanya digunakan untuk membenarkannya.
Itulah yang membuat Papua begitu penting bagi Investigation 07.
PAPUA ADALAH BUKTINYA.
INDONESIA ADALAH INVESTIGASINYA.
Dari Sabang sampai Merauke, jangan hanya tanyakan berapa banyak kekayaan yang berada di bawah tanah Indonesia.
Tanyakan siapa yang mempunyai hak atas kekayaan setelah ia keluar dari tanah.
Jangan hanya melihat pekerjanya.
Lihat pemiliknya.
Jangan hanya melihat proyeknya.
Lihat perusahaan di belakangnya.
Jangan hanya melihat perusahaan Indonesia.
Ikuti struktur kepemilikannya sampai ujung.
Jangan hanya berburu koruptor setelah uang hilang.
Periksa siapa yang mendapatkan akses terhadap kekayaan itu sejak awal.
Karena dunia mungkin sedang memasuki keadaan ketika sumber daya Indonesia menjadi semakin berharga.
Dan kalau itu benar—
INI SEHARUSNYA MENJADI WAKTU INDONESIA UNTUK MENJADI KAYA.
Bukan hanya oligarknya.
Bukan hanya korporasinya.
Bukan hanya pemegang sahamnya.
RAKYATNYA.
Dari Sabang sampai Merauke.
WE ARE INDONESIA.
— Jason Hutagalung


Tidak ada komentar