Jasaview.id

Breaking News

AHAT MULTIVERSE INVESTIGATION — PART 2 ADA UDANG DI BALIK BATU ADA UANG DI SKENA UNDERGROUND HIPOTESIS CATACLYSMIC: KETIKA UANG BESAR MASUK, LALU TIDAK ADA YANG MAU MEMANGGIL POLISI Oleh Jason Hutagalung


 JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION — PART 2


ADA UDANG DI BALIK BATU
ADA UANG DI SKENA UNDERGROUND
HIPOTESIS CATACLYSMIC: KETIKA UANG BESAR MASUK, LALU TIDAK ADA YANG MAU MEMANGGIL POLISI
Oleh Jason Hutagalung


Saya tidak mau menjelaskan lagi bagaimana sebuah transfer internasional bekerja.

Kita sudah tahu itu.

Sekarang saya mau langsung ke cerita.

RANS berada di Indonesia.

Cataclysmic Summer Tour membawa DeadSquad, Jasad dan Death Vomit ke Eropa.

Di sisi Eropa ada Diablo Productions.

Ada sponsorship.

Ada perjalanan internasional.

Ada accommodation.

Ada transport.

Ada venue.

Ada pembayaran yang seharusnya terjadi.

Lalu semuanya berantakan.

Dan dari sini saya mempunyai hipotesis.

RANS → EROPA → DIABLO.

Uang bergerak.

Berapa jumlahnya?

Belum dibuka kepada publik.

Tetapi berdasarkan skala perusahaan yang kita investigasi sebelumnya, saya tidak melihat ini sebagai uang receh.

Saya melihat kemungkinan adanya angka yang signifikan.

Lalu saya melihat apa yang terjadi di Eropa.

Hotel gagal.

Transportasi gagal.

Pertunjukan gagal.

Venue bermasalah.

Band-band Indonesia terlantar.

Dan pihak yang seharusnya mengatur semua itu menghilang.

Sekarang pertanyaan saya bukan lagi:

“Apakah Diablo gagal menjalankan tur?”

Itu sudah jelas.

Pertanyaan saya jauh lebih menarik:

APAKAH DIABLO MELIHAT UANG YANG MASUK DAN MENYADARI BAHWA MEREKA BISA MENGAMBILNYA?

Ini hipotesis saya.

Bukan karena Diablo bodoh.

Justru sebaliknya.

Mungkin mereka melihat sesuatu yang sangat sederhana.

Mereka melihat tiga band Indonesia.

Jauh dari rumah.

Tidak memahami sistem hukum Eropa.

Tidak mempunyai struktur hukum yang kuat di sana.

Tidak mempunyai promoter besar Eropa yang berdiri di belakang mereka.

Dan mungkin, yang paling penting:

MEREKA MELIHAT UANG YANG TIDAK AKAN MUDAH DIPERTANYAKAN.

Kalau uang itu benar-benar sepenuhnya normal, transparan dan mempunyai kontrak yang bersih, invoice yang jelas dan jalur pembayaran yang dapat dipertanggungjawabkan—

maka ketika seseorang mengambil atau menahan uang tersebut:

ANDA TELEPON POLISI.

Anda bicara dengan pengacara.

Anda kirim formal demand.

Anda laporkan fraud atau breach.

Anda tunjukkan kontrak.

Anda tunjukkan transfer.

Anda tunjukkan invoice.

Anda bilang:

“INI UANG KAMI. INI KONTRAKNYA. INI BUKTINYA.”

Tetapi itulah bagian yang membuat saya curiga.

Kita sudah melihat beberapa publikasi dan pernyataan setelah Cataclysmic.

Mereka berbicara tentang kegagalan.

Tentang pihak yang menghilang.

Tentang orang-orang yang ditinggalkan.

Tentang kemungkinan langkah hukum.

Tetapi kita tidak melihat satu hal yang menurut saya seharusnya muncul seketika kalau jumlah uangnya besar dan jalurnya bersih:

POLICE REPORT.

Bukan sebulan kemudian.

Bukan:

“Kami akan mempertimbangkan tindakan hukum setelah tur.”

Apa?

Kalau seseorang mengambil uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah milik perusahaan atau sponsor—

anda tidak menunggu band selesai bermain.

Anda tidak menunggu satu bulan.

ANDA MELAPORKANNYA.

Sekarang saya bertanya:

KENAPA TIDAK?

Dan di sinilah hipotesis saya menjadi lebih gelap.

Bagaimana kalau Diablo tahu bahwa uang yang mereka pegang berasal dari sebuah struktur yang tidak ingin terlalu banyak dilihat?

Bagaimana kalau Diablo melihat bahwa pihak Indonesia tidak akan mudah membuka seluruh kontrak dan seluruh rekening kepada polisi Eropa?

Bagaimana kalau mereka menghitung:

“Mereka tidak akan berani membawa ini ke polisi karena kalau polisi mulai bertanya dari mana uangnya berasal, siapa sponsornya, siapa pengirimnya, melalui perusahaan mana, dan apa dasar pembayarannya—mereka sendiri akan mempunyai pertanyaan yang jauh lebih besar untuk dijawab.”

Kalau itu yang terjadi, maka Cataclysmic bukan sekadar promoter bodoh.

ITU ADALAH OPPORTUNISTIC SWINDLE.

Seseorang melihat kelemahan.

Melihat uang.

Melihat bahwa korbannya jauh dari rumah.

Melihat bahwa jalur uang mungkin tidak akan mau dibuka.

Dan mengambil kesempatan.

Bukan karena uang itu kecil.

JUSTru KARENA UANGNYA BESAR.

Dan mungkin karena pihak yang kehilangan uang itu sendiri tidak ingin terlalu banyak cahaya diarahkan kepada bagaimana uang tersebut sampai ke Eropa sejak awal.

Itulah hipotesis saya.

Sekarang lihat perilaku band.

DeadSquad.

Jasad.

Death Vomit.

Mereka mengalami sesuatu yang luar biasa.

Enam belas orang Indonesia terlantar.

Kalau mereka benar-benar menjadi korban dari kegagalan kontrak internasional yang melibatkan uang besar, hal pertama yang saya harapkan adalah:

POLICE.

Bukan Facebook dahulu.

Bukan Instagram dahulu.

Bukan press statement dahulu.

Bukan “nanti setelah tour.”

POLICE FIRST.

Karena kalau Anda kehilangan gitar, Anda lapor.

Kalau paspor dicuri, Anda lapor.

Kalau seseorang membawa uang perusahaan atau uang sponsor dalam jumlah fantastis—

kenapa tidak?

Itulah pertanyaan yang sampai sekarang menurut saya belum dijawab.

Saya tidak mengatakan ketiadaan laporan polisi membuktikan uang itu ilegal.

Saya mengatakan:

KETIADAAN LAPORAN POLISI ADALAH BAGIAN DARI POLA YANG HARUS DIJELASKAN.

Karena kalau semua orang bersih—

sponsor bersih,

kontrak bersih,

pembayaran bersih,

promoter bersih,

band bersih—

maka polisi bukan ancaman.

POLISI ADALAH SOLUSI.

Tetapi kalau ada sesuatu dalam jalur uang yang tidak ingin seseorang jelaskan kepada penyidik—

maka polisi berubah dari solusi menjadi masalah.

Dan mungkin Diablo mengetahui itu.

Mungkin Diablo melihat:

“Mereka tidak akan datang.”

Lalu uang hilang.

Transportasi tidak ada.

Akomodasi tidak ada.

Venue gagal.

Dan musisi Indonesia menjadi pihak yang menanggung akibatnya.

Itulah kenapa saya tidak puas dengan penjelasan:

“Promoternya kabur.”

Saya ingin tahu apa yang membuat promoter tersebut merasa cukup aman untuk kabur.

APA YANG MEREKA TAHU TENTANG UANG ITU?

Apa yang mereka tahu tentang sponsor?

Apa yang mereka tahu tentang kontrak?

Apa yang mereka tahu tentang pihak Indonesia?

Apa yang membuat mereka berpikir bahwa tidak akan ada polisi mengetuk pintu?

Karena mungkin inti perkara ini bukan:

DIABLO MENCURI UANG.

Mungkin inti perkara sebenarnya:

DIABLO MENGETAHUI UANG ITU TIDAK AKAN DICARI DENGAN CARA NORMAL.

Kalau hipotesis saya benar, maka orang-orang yang paling lemah dalam cerita ini adalah justru musisinya.

DeadSquad.

Jasad.

Death Vomit.

Mereka pergi untuk bermain musik.

Mereka bukan banker.

Mereka bukan financial controller.

Mereka bukan beneficial owner.

Mereka bukan perusahaan sponsor.

Mereka bukan orang yang menulis kontrak pembayaran.

Tetapi ketika mesin uang itu berhenti:

MEREKA YANG DITINGGALKAN DI JALAN.

Itulah sebabnya saya tidak lagi melihat Cataclysmic sebagai cerita mengenai band.

Saya melihatnya sebagai cerita mengenai uang.

RANS → INTERMEDIARY → EROPA → DIABLO.

Lalu:

UANG MASUK.

PELAYANAN TIDAK TERJADI.

PIHAK MENGHILANG.

BAND TERLANTAR.

POLISI?

Sampai sekarang, pertanyaan itu tetap menggantung.

Dan sebelum seseorang meminta saya percaya kepada statement berikutnya, saya hanya membutuhkan empat benda:

KONTRAK.

TRANSFER.

REKENING.

POLICE REPORT.

Berikan empat itu.

Kita bisa menyelesaikan banyak misteri dalam satu sore.

Kalau uangnya bersih, tunjukkan jalurnya.

Kalau Diablo mengambil uang, tunjukkan berapa.

Kalau tidak ada laporan polisi, jelaskan kenapa.

Kalau proses hukum memang berjalan, tunjukkan nomor perkaranya.

Karena setelah sepuluh bagian HARDEN THE FUCK UP, saya tidak tertarik lagi dengan cerita.

SHOW ME THE FUCKING RECEIPT.

ADA UDANG DI BALIK BATU.

ADA UANG DI SKENA UNDERGROUND.

Dan hipotesis saya sekarang sederhana:

MUNGKIN DIABLO BUKAN SEKADAR MELIHAT BAND YANG BISA DITIPU.

MUNGKIN MEREKA MELIHAT UANG YANG PEMILIKNYA TIDAK AKAN BERANI KE POLISI.

Kalau saya salah:

BUKA LEDGER-NYA.

BUKA KONTRAKNYA.

BUKA LAPORAN POLISINYA.

Selesai.

— JASON HUTAGALUNG
JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION — PART 2

Tidak ada komentar