Jasaview.id

Breaking News

JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION — PART 5 ASAL MULA INVASI INDONESIA KE PANGGUNG INTERNASIONAL JAUH SEBELUM CATACLYSMIC Oleh Jason Hutagalung

 


JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION — PART 5
ASAL MULA INVASI INDONESIA KE PANGGUNG INTERNASIONAL
JAUH SEBELUM CATACLYSMIC
Oleh Jason Hutagalung


Jauh sebelum Cataclysmic Summer Tour.

Jauh sebelum band Indonesia pergi ke luar negeri menjadi sesuatu yang dengan gampang disebut “go international.”

Jauh sebelum orang bisa memasang poster European Tour di media sosial dan membuat semuanya terlihat mudah—

semuanya dimulai dari sebuah percakapan.

Antara saya dan seorang bernama Eben.

Dan semuanya berawal dari sebuah album.

Saya sedang bolak-balik antara Australia, Jepang dan Indonesia ketika saya menemukan album Burgerkill, Berkarat.

Album itu membuat saya terpukul.

Ada sesuatu yang berbeda.

Buat saya, Burgerkill sudah tidak terdengar seperti “band Indonesia” yang harus dinilai dengan standar Indonesia.

Mereka terdengar seperti sebuah band.

TITIK.

Kemudian saya mendengar Beyond Coma and Despair.

Di situlah semuanya berubah.

Saya memang metalhead. Saya terbiasa menonton band-band internasional di sekitar saya, berdiri di tengah penonton festival besar di Australia, melihat sendiri apa yang katanya membuat sebuah band menjadi “world class.”

Dan saya terus berpikir:

SEBENARNYA APA YANG MEREKA PUNYA YANG BURGERKILL TIDAK PUNYA?

Secara musikal, saya tidak melihat jurang besar seperti yang dibayangkan banyak orang.

Pikiran itu kemudian menjadi obsesi.

Saya ingin melihat band Indonesia berdiri di panggung internasional—bukan sebagai band eksotis dari Asia Tenggara, tetapi berdiri sejajar dengan band dari negara mana pun.

Saat itu masih zaman MySpace.

Saya menghubungi Eben.

Kami mulai berbicara.

Akhirnya saya mengirimkan tiket pesawat Bandung–Bali untuk Eben supaya kami bisa duduk dan membicarakannya langsung.

Di situlah khayalan mulai berubah menjadi rencana.

Saya kembali ke Australia dan mulai mendatangi orang-orang yang bekerja di pertunjukan dan event.

Saya bilang:

Saya mau membawa band metal Indonesia ke Australia.

Apa reaksinya?

MEREKA TERTAWA.

Sebagian bahkan tidak bisa membayangkan band Indonesia mampu bekerja di level internasional.

Dan semakin mereka tertawa, semakin keras kepala saya.

Akhirnya saya berpikir:

FUCK IT.

Kalau tidak ada yang mau membuka pintunya—

SAYA BIKIN PINTUNYA SENDIRI.

Dari situlah semangat:

XENOPHOBIC ENTERTAINMENT.

Bahkan nama XENOPHOBIC bukan dipilih sembarangan.

Karena begitulah saya merasa band Indonesia dipandang.

Asing.

Berbeda.

Tidak dianggap pantas berada di panggung yang sama.

Jadi daripada mengeluh, saya mulai bekerja.

Sebelum Burgerkill menginjakkan kaki di Australia, saya sudah memasukkan musik mereka ke tangan orang-orang.

Saya datang ke pertunjukan metal membawa CD.

Saya bertemu orang.

Saya kasih CD-nya.

DENGARKAN INI.

Jangan percaya omongan saya.

Dengarkan sendiri.

Pada 2009, Beyond Coma and Despair sudah mempunyai rilisan Australia.

Ini penting.

Karena orang sering salah mengerti arti sebenarnya dari:

GO INTERNATIONAL.

Bukan sekadar beli tiket pesawat, mendarat di negara lain, main beberapa gig, foto di depan venue, lalu pulang dan bilang:

“KAMI SUDAH MENAKLUKKAN DUNIA.”

Sebuah tour seharusnya mempunyai sesuatu di belakangnya.

Album.

Distribusi.

Promosi.

Kontak.

Venue.

Kontrak.

Visa.

Asuransi.

Transportasi.

Akomodasi.

Liability.

Uang.

INFRASTRUKTUR.

Akhirnya saya memutuskan waktunya sudah tiba.

Burgerkill akan datang ke Australia.

Dan tiba-tiba mimpi itu berubah menjadi:

PAPERWORK.

Saya mengatur venue.

Mengurus visa.

Logistik.

Transportasi.

Akomodasi.

Jadwal.

Tanggung jawab.

Semua pekerjaan membosankan yang tidak pernah terlihat ketika orang hanya melihat foto sebuah band berdiri gagah di panggung internasional.

Dan saya bisa bilang:

ITU FUCKING SUSAH.

Pada satu titik ada sekitar sebelas orang dari Bandung tinggal di rumah saya.

Bagian seperti itu tidak pernah masuk poster tour.

Orang melihat panggung.

Mereka tidak melihat pekerjaan membawa sebelas orang Indonesia secara legal melewati sistem imigrasi negara lain, menyediakan tempat tinggal, transportasi, kemudian memastikan semuanya sampai ke venue yang benar pada waktu yang benar.

Mereka tidak melihat liability.

Mereka tidak melihat apa yang terjadi kalau sesuatu gagal.

Mereka tidak melihat orang di belakang layar yang harus terus bertanya:

KALAU INI GAGAL, SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?

Tour Australia itu kemudian menjadi:

THE INVASION OF NOISE.

Dan nama itu juga bukan kebetulan.

Itulah persis yang saya dan Eben bicarakan.

Kami ingin membawa noise Indonesia keluar dari Indonesia.

Tetapi ada satu prinsip yang tidak mau saya kompromikan.

KAMI MASUK LEWAT PINTU DEPAN.

Musisinya datang dengan pengaturan visa yang sesuai dengan pekerjaan yang akan mereka lakukan di Australia.

Bukan datang pura-pura sebagai turis lalu diam-diam main band.

Bukan:

“Santai, nanti sampai sana kita urus.”

Tidak.

Kalau band Indonesia mau berdiri sejajar dengan band internasional, saya ingin mereka berada di sana dengan martabat yang sama.

Legalitas yang sama.

Dan standar profesional yang sama.

Karena bagi saya ini tidak pernah hanya tentang Burgerkill.

Ini tentang membuktikan sesuatu:

BAND INDONESIA PANTAS BERADA DI SANA.

Dan Burgerkill membuktikannya.

Apa yang saya dan Eben bicarakan akhirnya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada percakapan pertama kami.

Band Indonesia lainnya mengikuti.

Death Vomit adalah salah satunya.

Dan di sinilah cerita ini tiba-tiba kembali ke tahun 2026.

Bertahun-tahun kemudian saya melihat sebuah tour internasional Indonesia lagi:

CATACLYSMIC SUMMER TOUR 2026.

Jasad.

DeadSquad.

Death Vomit.

Lalu saya melihat masalah mulai muncul.

Akomodasi.

Transportasi.

Promotor.

Pertunjukan batal.

Orang terlantar.

Fundraising.

Pertanyaan mengenai tanggung jawab.

Dan pertanyaan mengenai uang.

Lalu orang bertanya kenapa saya terus menggali.

INILAH ALASANNYA.

Saya tahu betapa sulitnya membuat international tour.

Saya tahu apa saja yang bisa gagal karena saya pernah duduk di sisi lain meja itu.

Saya tahu kenapa kontrak penting.

Saya tahu kenapa visa penting.

Saya tahu kenapa asuransi penting.

Saya tahu kenapa liability penting.

Dan saya tahu kenapa pertanyaan “siapa yang bertanggung jawab?” harus dijawab sebelum pesawat meninggalkan Indonesia.

Dan salah satu band yang berada di Cataclysmic berasal dari sejarah perjalanan yang sama.

Mereka sudah pernah melihat international touring.

Mereka tahu ini bukan sekadar naik pesawat dan berharap ada seseorang menunggu di ujung sana.

Itulah sebabnya Cataclysmic mengganggu saya.

Bukan karena Indonesian metal gagal.

Justru sebaliknya.

INDONESIAN METAL SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA KITA BISA BERHASIL.

Kami pernah berjuang untuk pengakuan itu.

Eben memperjuangkannya.

Burgerkill membawanya ke atas panggung.

Band-band lain kemudian mengikuti.

Dan sejarah itu tidak hanya hidup di kepala saya.

Ada jejak independennya. Dr Kieran James mendokumentasikan sebagian perkembangan underground metal Indonesia melalui penelitian dan Busuk Webzine, termasuk percakapan mengenai jaringan tour Indonesia–Australia yang saya jalankan saat itu.

Jadi ketika saya mengatakan:

“SAYA ADA DI SANA KETIKA INI DIMULAI.”

Saya tidak meminta siapa pun mempercayai cerita yang baru saya buat lima belas tahun kemudian.

SEJARAHNYA MENINGGALKAN RECEIPT.

Dan mungkin itulah alasan sebenarnya kenapa saya tidak bisa begitu saja berpaling dari Cataclysmic.

Karena saya ingat betapa sulitnya membuka pintu itu.

Saya ingat ketika orang tertawa saat saya bilang band Indonesia bisa melewatinya.

Saya ingat Eben.

Saya ingat CD-CD itu.

Saya ingat MySpace.

Saya ingat paperwork.

Saya ingat sebelas orang tinggal di rumah saya.

Saya ingat visa.

Saya ingat venue.

Saya ingat tanggung jawabnya.

Dan yang paling penting—

SAYA INGAT KENAPA KAMI MELAKUKANNYA.

Bukan supaya Indonesia sekadar bisa berkata:

“KAMI PERNAH KE LUAR NEGERI.”

Kami melakukannya supaya sebuah band Indonesia bisa berdiri di panggung internasional dan berkata:

KAMI MEMANG PANTAS BERADA DI SINI.

Itulah invasinya.

Itulah noise-nya.

Dan ternyata—

di sanalah investigasi ini sebenarnya dimulai.

THE INVASION OF NOISE.

— JASON HUTAGALUNG
JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION — PART 5

Tidak ada komentar