JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION CATACLYSMIC — INI BUKAN LAGI SOAL BAND Ini Soal Uang, Kontrak, dan Standar Profesional Tour Internasional Oleh Jason Hutagalung
JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION
CATACLYSMIC — INI BUKAN LAGI SOAL BAND
Ini Soal Uang, Kontrak, dan Standar Profesional Tour Internasional
Oleh Jason Hutagalung
Cataclysmic Summer Tour telah berjalan melewati Eropa. Sebagian pertunjukan berhasil. Sebagian mengalami masalah. Para musisinya sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan musisi:
BERMAIN MUSIK.
Tetapi beberapa bulan kemudian, saya masih melihat satu persoalan yang belum selesai.
UANG.
Saya tidak sedang menginvestigasi apakah DeadSquad, Jasad atau Death Vomit bagus atau tidak.
Saya tidak sedang menghitung keberhasilan panggung mereka.
Saya sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendasar:
SIAPA MEMBIAYAI TOUR INI? BERAPA? SIAPA MENERIMA? APA KEWAJIBANNYA? DAN KE MANA UANG ITU PERGI?
Semakin jauh investigasi HARDEN THE FUCK UP WORLDTOUR 2026 berjalan, semakin penting hubungan sponsorship, RANS dan struktur pendanaan tour ini untuk dibuka secara transparan.
Kalau ada penyalahgunaan dana, buktikan melalui transaksi.
Kalau tidak ada, ledger juga akan membuktikannya.
Itulah standar saya.
Saya mempertanyakan Cataclysmic bukan karena saya membenci band-band tersebut.
Justru sebaliknya.
SAYA INGIN BAND INDONESIA PERGI KE LUAR NEGERI DENGAN BENAR.
Saya sudah memikirkan persoalan ini jauh sebelum tour internasional menjadi sesuatu yang biasa dibicarakan di skena Indonesia.
Saya pernah berbicara dengan almarhum Eben dari Burgerkill tentang satu gagasan sederhana: band Indonesia mempunyai kemampuan untuk berdiri sejajar dengan band dari negara mana pun. Yang dibutuhkan bukan hanya keberanian naik pesawat.
Yang dibutuhkan adalah sistem.
Dan Eben memahami itu.
Inilah alasan saya selalu kembali kepada Burgerkill sebagai benchmark.
Ketika Burgerkill berangkat ke Australia, semuanya harus jelas.
Visa.
Kontrak.
Sponsor.
Asuransi.
Manajemen.
Promotor.
Transportasi.
Akomodasi.
Tanggung jawab masing-masing pihak.
Bukan:
“Santai, nanti kita urus.”
Tour internasional tidak bekerja seperti itu.
Saya melihat sendiri bagaimana Burgerkill akhirnya tampil di Australia, termasuk dalam lingkungan festival besar seperti Big Day Out dan Soundwave.
Bagi saya, keberhasilan itu bukan hanya tentang Burgerkill memainkan musik di luar negeri.
ITU ADALAH PEMBUKTIAN BAHWA BAND INDONESIA DAPAT BEROPERASI SECARA PROFESIONAL DI DALAM SISTEM INTERNASIONAL.
Itulah warisan Eben yang menurut saya jangan dilupakan.
Dia tidak terburu-buru.
Dia bertanya.
Dia memastikan.
Dia memahami bahwa ketika membawa sebuah band melintasi perbatasan negara, kita membawa manusia—bukan hanya gitar.
Kalau sesuatu terjadi, siapa bertanggung jawab?
Kalau seseorang sakit, mana asuransinya?
Kalau hotel gagal, siapa yang membayar?
Kalau transportasi hilang, siapa yang dikontak?
Kalau promoter menghilang membawa uang:
MANA KONTRAKNYA DAN MANA JALUR HUKUMNYA?
Itulah sebabnya Cataclysmic penting bagi saya.
Bukan untuk menghancurkan band.
UNTUK MENJADIKANNYA PELAJARAN.
Karena akan ada band Indonesia berikutnya.
Dan berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Mereka harus belajar bahwa sebuah poster bertuliskan EUROPEAN TOUR bukan bukti profesionalisme.
Sponsor besar bukan jaminan.
Nama terkenal bukan jaminan.
Uang besar bukan jaminan.
Yang melindungi band adalah:
KONTRAK. VISA. ASURANSI. MANAGEMENT. ACCOUNTABILITY. DAN HUKUM.
Itulah standar yang dahulu kami coba bangun.
Dan itulah standar yang sekarang saya gunakan untuk menguji Cataclysmic.
Saya juga tidak akan menerima apabila industri musik underground digunakan sebagai kendaraan untuk uang yang asal-usul, tujuan atau penggunaannya tidak dapat dipertanggungjawabkan—siapa pun sponsornya, perusahaan di belakangnya, atau seberapa besar namanya.
Tetapi saya tidak akan membuktikannya dengan teriak:
“KORUPSI!”
Saya akan membuktikannya dengan:
KONTRAK → INVOICE → TRANSFER → PENERIMA → PENGELUARAN.
Kalau semuanya cocok, saya tidak mempunyai perkara.
Kalau tidak cocok:
JELASKAN SELISIHNYA.
Itulah profesionalisme.
Itulah transparansi.
Dan bagi saya, itulah penghormatan sebenarnya kepada almarhum Eben dan kepada setiap band Indonesia yang bermimpi membawa musiknya keluar negeri.
Bukan sekadar:
GO INTERNATIONAL.
Tetapi:
GO INTERNATIONAL — PROFESSIONALLY.
Karena musik boleh underground.
TAPI KONTRAK JANGAN UNDERGROUND.
FOLLOW THE CONTRACT.
FOLLOW THE DOCUMENT.
FOLLOW THE LAW.
FOLLOW THE MONEY.
— JASON HUTAGALUNG
JAHAT MULTIVERSE INVESTIGATION


Tidak ada komentar